5 Sudut Pandang Pemenang dan Pecundang




(2 votes, average: 3 out of 5)Apa kabar rekan-rekan semuanya? Mohon maaf sebelumnya apabila saya baru menulis lagi, soalnya kemarin saya sibuk dengan beberapa urusan bisnis. Hehe… Baiklah, dalam artikel ini kita akan membicarakan dua buah sudut pandang yang berbeda, antara si pemenang dan si pecundang dalam memandang kehidupan ini. Bagaimana mungkin manusia yang memiliki potensi yang sama oleh Allah SWT, namun memiliki hasil yang beragam dan berbeda-beda? Tahukah Anda bahwa sesungguhnya sang pemenang dan sang pecundang hanya dibedakan oleh suatu hal yang kecil dan tipis, namun dampaknya sangat luar biasa? Hal tersebut hanyalah satu, yaitu sudut pandang.
Pertama, seorang pemenang selalu berpikir dan memandang bahwa dirinya harus menjadi bagian dari sebuah solusi. Solusi adalah yang utama. Bertindak harus dilakukan secepatnya. Berpikir tajam adalah kunci hidupnya. Seorang pemenang, di manapun ia berada, ia selalu yakin bahwa dirinya adalah seorang pemegang kunci jawaban atas segala persoalan yang menimpa dirinya dan orang lain. Berbeda dengan pecundang. Seorang pecundang hanya bisa menjadi bagian dari suatu masalah. Seorang pecundang hanya mampu menyalahkan keadaan yang menimpanya. Pecundang tidak pernah bertindak untuk memperbaiki apa yang memang seharusnya diperbaiki. Ini tidak mengherankan karena memang pola pikir seorang pecundang hanyalah masalah demi masalah yang di situlah dia memfokuskan dirinya tanpa pernah mencoba mencari kunci untuk memecahkan masalahnya.
Kedua, seorang pemenang selalu berpikir dan berkata, “Biarkan saya yang melakukannya untuk Anda.” Seorang pemenang selalu berpikir dan berkata, “Ada yang bisa saya lakukan untuk Anda?”. Seorang pemenang selalu berorientasi pada bantuan dan kontribusi apa yang bisa dia berikan untuk umat manusia. Senyum selalu menjadi sahabat setia di bibirnya, sambil menawarkan kontribusi apa yang bisa ia berikan. Berbeda dengan pecundang. Seorang pecundang adalah seorang yang selalu berpikir dan berkata,”Itu bukan bagian dari pekerjaan saya.”. Seorang pecundang selalu berpikir dan berkata, “Itu bukan urusan saya.”. Pecundang selalu memikirkan dirinya sendiri. Seorang pecundang tidak akan membantu apabila tidak diminta. Seorang pecundang selalu berpikir bagaimana cara membahagiakan diri sendiri, padahal pada dasarnya tidak pernah seorang pecundang merasakan apa yang namaya bahagia.
Ketiga, seorang pemenang selalu mempunyai sudut pandang dan mindset bahwa pasti ada jawaban di setiap persoalan. Tidak peduli apa masalahnya, tidak peduli seberat apa cobaannya. Karena pemenang pasti yakin bahwa semua masalah yang menimpanya bisa diselesaikan dan diberikan Allah sesuai dengan kemampuan dirinya. Sementara pecundang? Pecundang selalu memiliki sudut pandang dan mindset pasti ada masalah dalam setiap jawaban. Pecundang tidak pernah memberikan solusi, namun dia hanya bisa melihat masalah dalam solusi-solusi yang ada. Pecundang sangat senang mengkritik, tidak mau dikritik, dan tidak bisa diharapkan memberikan solusi atas sebuah persoalan. Maka hati-hatilah Anda agar jangan sampai memiliki sudut pandang seorang pecundang.
Keempat, seorang pemenang selalu memiliki mindset dan berkata,”Hal ini memang sulit, tetapi mungkin diselesaikan dengan baik.” Seorang pemenang selalu melihat kesempatan. Seorang pemenang selalu melihat peluang. Seorang pemenang selalu melihat bagaimana suatu masalah terpecahkan. Berbeda dengan seorang pecundang. Seorang pecundang selalu memiliki mindset dan berkata, “Hal ini memang mungkin diselesaikan dengan baik, tetapi ini sulit.”. Seorang pecundang selalu berfokus pada kesulitan-kesulitan. Seorang pecundang selalu melihat masalah dalam kesempatan, Seorang pecundang selalu mencegah dirinya untuk maju dan takut dalam melakukan perubahan menuju arah yang lebih baik.
Terakhir, seorang pemenang hidup layaknya sebuah thermostat. Seorang pemenang hidup sebagai seorang yang membawa perubahan untuk kebenaran. Seorang pemenang berkomitmen untuk menjadi orang yang berpengaruh bagi lingkungannya. Seorang pemenang adalah seorang yang memilih jalan sebagai agent of change walaupun batu ujian datang menghantam dirinya. Berbeda dengan seorang pecundang. Seorang pecundang hidup layaknya sebuah thermometer. Apabila suhu di sekitarnya berubah, maka indikator dirinya pasti berubah. Pecundang tidak memiliki prinsip. Pecundang tidak berani melawan arus. Pecundang tidak berpengaruh dan mudah dipengaruhi. Pecundang hanya ikut-ikutan tanpa tahu siapa dirinya dan tidak tahu jati dirinya sendiri.
Pertanyaan saya, ada di manakah diri kita saat ini? Mindset apa yang sering muncul dan dimiliki kita saat ini? Selamat bagi Anda yang memiliki mindset seorang pemenang, namun wasapada bagi Anda yang memiliki mindset seorang pecundang.
Ada yang ingin rekan-rekan tambahkan? Atau mungkin ada sudut pandang yang lain? ^^
Salam Sukses untuk Anda!
Arry Rahmawan D
SMS : 08988507455
E-Mail : arry.rahmawan@gmail.com
http://arry-rahmawan.co.cc

Tipe-tipe Penghambat Kemajuan




(1 votes, average: 5 out of 5)Setiap kali saya mengajar sebuah kelompok ataupun perorangan, saya menjumpai bahwa ada beberapa macam tipe orang yang dapat menghambat proses belajar itu sendiri.
Tipe yang pertama adalah Si "Tapi". Si Tapi adalah tipe orang yang mudah mengucapkan sesuatu tanpa disertai dengan niat. "Menarik, saya ingin belajar donk.. Tapi nanti saja ya.." adalah contoh kalimat yang biasa dilontarkan Si Tapi. Keinginan sudah ada namun tanpa niat sehingga keinginan tersebut hanya sebatas ucapan mulut. Dan sadar ataupun tidak bahwa kata "tapi" itu adalah penghambat utamanya. "Saya ingin berubah tapi..", "saya ingin belajar tapi.." …Berulang-ulang Si Tapi hanya berpusat pada kata tapi dan kalimat sesudahnya saja sehingga ia terlalu sibuk dengan ‘tapi’-nya tanpa ada tindakan yang nyata. Ketika orang lain telah mulai belajar, Si Tapi ini tetap masih ‘jalan di tempat’ saja. Jika Si Tapi ini menghubungi dan berkata ingin mempelajari sesuatu dari saya maka saya melihat bahwa sebagian besar dari mereka akan melupakan sendiri niat mereka tersebut.
Menikmati Proses




(1 votes, average: 4 out of 5)Sebenarnya yang harus kita nikmati dalam hidup ini adalah proses. Mengapa? Karena yang bernilai dalam hidup ini ternyata adalah proses dan bukan hasil. Kalau hasil itu Allah SWT yang menetapkan. Kita hanya punya dua kewajiban, yaitu menjaga setiap niat dari apapun yang kita lakukan dan selalu berusaha menyempurnakan ikhtiar yang dilakukan, selebihnya terserah Allah SWT.
Seperti para mujahidin yang berjuang membela bangsa dan agamanya, sebetulnya bukan kemenangan yang terpenting bagi mereka karena menang kalah itu akan selalu digilir kepada siapapun. Tapi yang paling penting baginya adalah bagaimana selama berjuang itu niatnya benar karena Allah dan selama berjuang itu akhlaknya juga tetap terjaga. Tidak akan rugi orang yang mampu berbuat seperti ini sebab ketika dapat mengalahkan lawan berarti dapat pahala, kalaupun terbunuh berarti bisa jadi syuhada.
Obat dari Segala Obat




(No Ratings Yet)
Tanggal Penulisan : Sabtu, 31 Oktober 2009; 07.42 - Depok
Ditulis oleh : Arry Rahmawan
Lihat Profil Penulis
Obat dari segala obat? Mendengarnya saja mungkin kita akan sangat tertarik untuk mengetahuinya. Bukankah obat dari segala obat menunjukkan bahwa obat ini adalah obat yang paling mujarab? Lantas obat ini mengobati penyakit apa ya?
Rekan-rekan sekalian, kita sebagai manusia, tentunya seringkali memiliki berbagai macam masalah dan tidak tahu pemecahannya. Banyak cara dilakukan untuk mencari obat dari segala macam masalah-masalah yang menurut kita tidak mungkin dipecahkan. Ada yang mulai dari sharing, meminta saran, atau yang hedon lebih memilih ke diskotik atau bar untuk melupakan masalah. Bahkan yang tersesat memilih jalan mengkonsumsi narkoba yang kemudian akan menghancurkan dirinya sendiri. Memang terkadang depresi dan frustasi mendominasi pikiran-pikiran kita, sehingga kita menjadi kacau dan bahkan tidak jarang yang jatuh sakit dan akhirnya stress, bahkan yang lebih ekstrim adalah bunuh diri.
Pelembut Dalam Berkomunikasi




(1 votes, average: 5 out of 5)
Tanggal Penulisan : Ahad, 13 September 2009; 23:56 - Depok
Ditulis oleh : Arry Rahmawan
Lihat Profil Penulis
Berkomunikasi adalah hal yang biasa kita lakukan sehari-hari. Sepertinya hampir mustahil bagi kita dalam sehari tidak berinteraksi dengan orang lain, bukan? Dalam berkomunikasi ternyata tidak hanya kata-kata yang berperan lho! Tetapi ternyata ada juga yang disebut gerakan non-verbal atau bahasa tubuh. Faktanya, informasi dapat lebih mudah diserap apabila bahasa tubuh kita mendukung untuk penyampaian informasi tersebut. Nah, selama saya berkomunikasi dengan banyak kawan dan relasi, berikut ini adalah tips-tips ringan yang bisa saya berikan untuk Anda semuanya sebagai pelembut dalam berkomunikasi.
Berapa Banyak Anda Berkarya Hari Ini?




(1 votes, average: 4 out of 5)
Tanggal Penulisan : Ahad, 13 September 2009; 23:26 - Depok
Ditulis oleh : Arry Rahmawan
Lihat Profil Penulis
Cobalah kita merenungkan sesaat akan arti sebuah waktu. Di kala semua manusia, saya, Anda, dan yang lainnya mendapatkan jatah waktu yang sama, yaitu 24 jam. Namun dapat saya pastikan bahwa ‘output karya’ yang dihasilkan dari setiap orang sangatlah berbeda.
Ada manusia yang menghasilkan 1 dalam 24 jam, namun
ada manusia yang menghasilkan 2 dalam 24 jam, tetapi
ada manusia yang menghasilkan 3 dalam 24 jam, herannya
ada manusia yang menghasilkan 10 dalam 24 jam, ironisnya
ada manusia yang tidak menghasilkan apa-apa selama 24 jam yang dimilikinya yaitu hari ini.
Pertanyaannya, sejauh mana kontribusi dan karya nyata Anda hari ini? Seberapa banyak Anda berbagi, tersenyum, beramal, berkarya, berkontribusi, dan beribadah untuk hari ini?
Subscribes
High Rated Articles
- The True Power of Water




(5 out of 5) - Cinta Ibu kepada Anaknya




(5 out of 5) - Belalang dan Anjing




(5 out of 5) - Detik Terakhir Rasulullah SAW




(5 out of 5) - Senyum Yuuk..^^




(5 out of 5) - Seputih Melati




(5 out of 5) - Sedikit Cerita Tentang Oprah Winfrey




(5 out of 5) - Tukang Kayu




(5 out of 5) - Virus Merah Jambu, Berbahayakah?




(5 out of 5) - Menyusun Puzzle Kehidupan




(5 out of 5)
Recent Comments
- Indonesia dan M…
in Cerita dari Steve Jobs (CEO Apple I… - Arry Rahmawan
in Terimakasih Ayah, Telah Menunjukkan… - Arry Rahmawan
in Ciri Orang Sukses - Arry Rahmawan
in Kisah Kucing Kecil - Arry Rahmawan
in Surat Cinta Seorang Ikhwan - Arry Rahmawan
in Puzzle, Map, and Go! : Drawing a Ma… - Arry Rahmawan
in Penderitaan Orang Pelit - Arry Rahmawan
in 5 Sudut Pandang Pemenang dan Pecund… - titan
in Terimakasih Ayah, Telah Menunjukkan… - titan
in 5 Sudut Pandang Pemenang dan Pecund…
Most Commented
- Surat Cinta Seorang Ikhwan (26)
- Kehidupan Setelah Mati (17)
- The True Power of Water (17)
- Pacaran Islami (16)
- Kiat Praktis Manajemen Waktu (16)
- Terimakasih Ayah, Telah Menunjukkan Kepada Saya Betapa Miskinnya Kita (15)
- Sebuah Puisi Cinta... (15)
- Virus Merah Jambu, Berbahayakah? (14)
- Belenggu Penghambat Pembelajaran (1) (12)
- Sebab Cinta (11)
.: Navigasi Posting :.
- Artikel Islam (83)
- Cerita Berhikmah (165)
- Fakta Menarik (22)
- Self Development (216)
- Kata-Kata Bijak (14)
- Puisi Inspiratif (2)
- Video Inspiratif (3)
- Tokoh Inspiratif (1)
.: Profil Kami :.
Tags Cloud
.: Arsip :.
- January 2010 (1)
- November 2009 (2)
- October 2009 (1)
- September 2009 (2)
- August 2009 (1)
- July 2009 (1)
- June 2009 (2)
- May 2009 (2)
- April 2009 (1)
- February 2009 (4)
- January 2009 (4)
- November 2008 (11)
- October 2008 (11)
- September 2008 (20)
- August 2008 (15)
